AHY Tekankan Perlindungan Pantura Jawa, Pemerintah Siapkan Giant Sea Wall dan Rehabilitasi Mangrove

banner 468x60

DEMAK – Ancaman abrasi, banjir rob, dan penurunan muka tanah yang terus membayangi kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa menjadi perhatian serius pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan pentingnya percepatan perlindungan kawasan pesisir melalui pembangunan infrastruktur yang terintegrasi dengan pemulihan lingkungan.

Salah satu upaya yang didorong adalah pembangunan Giant Sea Wall (GSW) atau tanggul laut raksasa, yang dipadukan dengan penanaman mangrove dan pendekatan berbasis alam untuk memperkuat ketahanan wilayah pesisir.

Komitmen tersebut disampaikan AHY ketika menghadiri kegiatan penanaman mangrove di Desa Timbulsloko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, Jawa Tengah, Senin (19/10/2026).Menurut AHY, Pantura Jawa memiliki posisi strategis karena menjadi penopang berbagai kegiatan ekonomi nasional.

Namun, kawasan ini juga menghadapi tekanan lingkungan yang berpotensi mengancam keselamatan masyarakat dan keberlangsungan aktivitas ekonomi.Kenaikan permukaan air laut yang disertai penurunan muka tanah atau land subsidence membuat sejumlah wilayah pesisir semakin rentan terhadap banjir rob dan kerusakan lingkungan.

“Tujuan besar dari pembangunan Giant Sea Wall, termasuk apa yang kita lakukan hari ini, pada akhirnya adalah bagaimana menyelamatkan masyarakat yang terdampak meningkatnya permukaan air laut dan menurunnya permukaan tanah. Sekaligus menjaga agar keberlangsungan hidup dan ekonomi masyarakat kita juga bisa kita jaga bersama-sama,” ujar AHY.

Pemerintah Gabungkan Infrastruktur dan Pemulihan AlamDalam menghadapi persoalan tersebut, pemerintah mendorong penerapan Nature-Based Solutions (NbS), yakni pendekatan yang memanfaatkan fungsi alam untuk membantu mengatasi tantangan lingkungan.

Penanaman mangrove menjadi salah satu langkah yang dilakukan karena ekosistem ini dapat membantu meredam gelombang, menahan sedimen, serta mengurangi risiko abrasi apabila dikembangkan dan dipelihara dengan baik.Di Desa Timbulsloko, program perlindungan pesisir juga didukung penggunaan HexBricks, guludan, dan struktur bambu.

Pengembangan kawasan percontohan ini direncanakan meliputi area mangrove seluas 6,56 hektare dan jalur perlindungan sepanjang 2,94 kilometer.

AHY menegaskan bahwa pembangunan tanggul laut dan pemulihan ekosistem perlu berjalan beriringan. Pendekatan terpadu tersebut diharapkan mampu memperkuat perlindungan kawasan pesisir sesuai karakteristik masing-masing wilayah.

Program Perlindungan Menjangkau Lima ProvinsiProgram perlindungan Pantura Jawa direncanakan mencakup sekitar 575 kilometer kawasan pesisir yang tersebar di 25 kabupaten/kota dan lima provinsi.Pelaksanaan program membutuhkan koordinasi lintas kementerian/lembaga serta pemerintah daerah agar perencanaan, pembangunan, dan pemeliharaan dapat berjalan secara terintegrasi.

Sebagai Ketua Dewan Pengarah, AHY berperan dalam mengoordinasikan arah kebijakan strategis program tersebut. Adapun Badan Otorita Pengelola Pantura Jawa (BOPPJ) menjalankan fungsi koordinasi dan sinkronisasi perencanaan, fasilitasi sinergi pemangku kepentingan, serta pemantauan dan evaluasi sesuai kewenangannya.Pemerintah juga menekankan bahwa keberhasilan perlindungan pesisir tidak semata-mata diukur berdasarkan panjang tanggul yang dibangun atau jumlah mangrove yang ditanam.

Efektivitas perlindungan, tingkat kelangsungan hidup mangrove, dan pemeliharaan jangka panjang menjadi bagian penting dalam evaluasi.Nelayan dan Petambak Tetap Menjadi PerhatianSelain perlindungan lingkungan, keberlanjutan kehidupan masyarakat pesisir juga menjadi perhatian dalam program tersebut.Kepala BOPPJ yang juga Wakil Menteri Kelautan dan Perikanan, Laksamana TNI (Purn) Didit Herdiawan Ashaf, mengatakan kegiatan di Timbulsloko menjadi percontohan untuk mempelajari kondisi alam setempat.Ia menegaskan, pembangunan perlindungan pesisir harus memperhatikan kepentingan nelayan dan petambak agar kegiatan ekonomi masyarakat tetap dapat berlangsung.

Pemanfaatan HexBricks yang diproduksi warga setempat juga diharapkan memberikan dampak ekonomi melalui terbukanya peluang kerja dan tambahan penghasilan bagi masyarakat.Karena itu, keterlibatan warga sejak tahap perencanaan hingga pemeliharaan dinilai penting untuk memastikan program sesuai kebutuhan lapangan.

Pemerintah juga mendorong sinergi dengan dunia usaha, perguruan tinggi, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya.AHY berharap penerapan perlindungan pesisir di Timbulsloko dapat menjadi bahan evaluasi dan pembelajaran untuk memperkuat upaya serupa di wilayah Pantura lainnya.

“Yang kita lakukan hari ini bukan hanya untuk melindungi kawasan pesisir, melainkan juga menjaga keberlangsungan kehidupan masyarakat dan ekonomi kita. Ini membutuhkan kerja bersama agar Pantura Jawa menjadi lebih aman dan tangguh menghadapi tantangan ke depan,” tutup AHY.

Melalui kombinasi pembangunan infrastruktur dan rehabilitasi ekosistem, pemerintah berharap kawasan Pantura Jawa semakin tangguh menghadapi ancaman pesisir, dengan keselamatan masyarakat dan keberlanjutan ekonomi sebagai prioritas utama.

Sumber: Biro Data, Komunikasi dan Informasi Publik, Kemenko Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan.Tag SEO: AHY, Giant Sea Wall, Pantura Jawa, pembangunan tanggul laut, penanaman mangrove, perlindungan pesisir, banjir rob, abrasi pantai, penurunan muka tanah, BOPPJ, Kabupaten Demak, Prabowo Subianto, infrastruktur Indonesia, rehabilitasi mangrove.

banner 300x250

Related posts

banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *